Rabu, 27 April 2011

Berambisi Terhebat di Peralatan Outdoor

Berambisi Terhebat di Peralatan Outdoor


Sebagai pecinta alam, ia tak hanya jago memanjat tebing dan gunung-gunung tertinggi di Indonesia, tapi juga lihai mengolah hobinya menjadi bisnis yang menggiurkan. Ia pun berambisi menjadi pemain terhebat di bisnis perlengkapan outdoor dan keselamatan kerja.

.Sebidang tanah seluas 2.500 m2 di Jl. Raya Ciledug dan sejumlah rumah tua di atasnya tampak sedang dibenahi beberapa tukang bangunan. Di satu bagian tampak tiang dan dinding baru berbeton tinggi. Tanah ini sebelumnya milik seorang pengusaha carter pesawat terbang, tapi kini beralih ke tangan Alfi Hendry. “Di atas lahan ini saya akan membangun sebuah toko besar untuk perlengkapan kegiatan dan gym outdoor terbesar di Asia Pasifik,” ujar sang distributor sejumlah merek peralatan outdoor dan keselamatan kerja – sebagian besar produk impor – di bawah payung CV Tandike. Dengan pinjaman bank, bangunan itu rencananya berdiri pada 2010.

Di sisi lain, Toko Andike yang membelakangi areal tanah itu penuh dengan barang dagangan. “Bagi saya, toko ini sekarang seperti gudang,” ujar drop out Sekolah Tinggi Manajemen Industri, Jakarta ini sedikit berseloroh. Diungkapkannya, keberadaan toko besar tersebut untuk memenuhi keinginannya memiliki sebuah tempat yang nyaman dan luas, sehingga memungkinkan konsumen untuk mengecek perlengkapan outdoor yang akan dibeli. Contohnya, tempat tracking untuk sepeda gunung, kolam kecil untuk tes perahu, dan walk climbing.

Melihat penampilan pria kelahiran Padang 27 Januari 1973 ini, orang mungkin akan terkecoh. Perawakannya yang semampai, sepatu gunung, celana jins dan T-shirt yang dikenakannya, membuatnya lebih terlihat sebagai pecinta alam ketimbang businessman. Baginya, hobi dan bisnis memang bisa berjalan bersamaan, kecuali kuliah. “Saya kuliah sampai semester 12 dan keluar pada 1998, bukan karena bisnis tapi karena naik gunung,” ujar pria yang baru saja naik gunung tertinggi di Indonesia dan ketiga termahal di dunia, Cartenz Pyramids di Papua ini.

Meski kerap naik gunung, bisnisnya berjalan baik. Bermula dari pedagang produk kegiatan outdoor dengan sebuah toko berukuran 2 x 3 meter di Cempaka Putih, Jakarta, pada 1996, kini Alfi menjadi distributor sejumlah merek perlengkapan outdoor asing. Produk-produk terkenal asal Prancis, Jerman, Inggris, Amerika Serikat, Italia, Brasil dan Swedia itu antara lain bermerek Beal, Petzl, Lafuma, Millet, Karrimor, Trangia, Tramontina, Nalgene, Bufo, Boreal, Camp, Deuter, dan Fadears. Produknya meliputi tas, tenda, tali, sleeping bag, perahu karet, gelas tahan pecah, kompor, sandal dan sepatu naik gunung, rain coat, matras, ascender, descender, pulley, sling sampai helm. Ia juga menjual sejumlah merek lokal seperti Eager, Giant dan Consina, yang menyediakan perlengkapan kegiatan outdoor (topi, tas ransel, dompet, sandal, baju sampai celana) dan tas ransel sekolah.

Alfi terus mengikuti kegiatan pecinta alam dan terlibat dalam komunitasnya, tak hanya sebagai hobi melainkan juga dalam rangka mengembangkan usaha dan produk yang dijualnya. Sebenarnya, menjadi pengusaha bukanlah cita-cita Alfi. Semuanya mengalir seperti air. Yang mendorongnya mendirikan toko karena ia dan teman-teman pecinta alam kerap kesulitan mencari perlengkapan di kawasan Jakarta Timur. “Kami harus ke Jakarta Selatan,” kata pria yang hobi naik gunung sejak 1992 hingga sekarang ini. Selain itu, ia ingin ada sebuah base camp bagi teman-teman sesama pecinta alam untuk berkumpul. Akhirnya, ia mengajak teman-temannya untuk membuka toko kecil. “Namun mereka tak tertarik dan tak yakin bisa menjalankannya,” ujar Alfi yang akhirnya memutuskan untuk mendirikan sendiri, dan pinjam uang dari dua-tiga temannya senilai Rp 9-10 juta.

Awalnya ia menjual produk lokal seperti merek Alpina, dan diikuti Eager. Lalu, disusul Consina di tahun 2000. Perkembangannya luar biasa, ia berhasil mengembangkan tokonya menjadi 11 sampai tahun 2003. Toko-toko itu tak hanya di Cempaka Putih, tapi juga di Cipulir, Lenteng Agung, Pasar Minggu, Kramat Jati, Cakung, Penggilingan, Kelapa Gading (Jakarta), hingga Padang dan Cibodas. Setiap toko memiliki dua-tiga karyawan. Untuk memudahkan pengawasan, ia biasanya mempekerjakan beberapa keluarganya di usahanya.

Nama CV Tandike sendiri dibuat pada 2000 untuk memayungi usahanya yang terus berkembang pesat tersebut. Tandike diambil dari nama gunung yang tinggi di Sumatera Barat. Alfi mengakui, perkembangan usahanya tak selalu lancar. Tiga tahun pertama (1996-1999), usahanya berjalan di tempat, sebab ia tak punya produk andalan. Produk lokal dagangannya saat itu bisa dibeli konsumen di toko lain.

Memasuki tahun 2003 Alfi mencoba mengembangkan produknya dengan menjual produk impor. Produk yang diliriknya adalah merek Beal yang terkenal dan terbesar di seluruh dunia dengan tali serta perlengkapannya untuk memanjat tebing. Enam bulan pertama ia harus belanja ke Singapura, sebab merek ini dipegang oleh distributor regional di Singapura. Nilainya berkisar Rp 20-30 juta setiap kali belanja.

Namun pada 2004, Alfi tertarik menjadi distributor Beal. Ia pun mengajukan permohonan kepada pemegang merek Beal yang berpusat di Prancis. Sayang, mereka menolak dengan alasan produk ini telah lama dipegang mitra usahanya di Singapura, dan Indonesia merupakan bagian dari region Singapura. Toh, Alfi tak putus asa dan terus membujuk. Dan belum kunjung berhasil. Akhirnya, Alfi mengirim surat kepada mereka, bahwa ia akan menjual produk merek asing lain yang sejenis jika mereka tetap tak bersedia. Kebetulan saat itu memang ada dua produk asing yang ia lihat cukup bagus, yaitu Ederid dari Jerman dan Lanex dari Ceko.

Rupanya ancaman tersebut efektif. Akhirnya, pemegang utama merek Beal di Prancis mengizinkan. “Pemegang brand Beal dari Singapura juga setuju, dan menyarankan untuk memberi target kepada kami,” ujar Alfi. Target yang dimaksud adalah 10 ribu euro per tahun atau sekitar Rp 100 juta waktu itu.

Pengalaman menarik Alfi selain masalah ancaman dua merek itu, yaitu alamat website. Ketika akan menyetujui permohonan mereka, pihak Beal hanya bertanya singkat: mana alamat website Tandike. Maklum, mereka tak pernah bertemu langsung sehingga semua pembicaraan dilakukan hanya melalui e-mail. Hanya dalam tempo beberapa hari alamat website pun jadi walaupun fiturnya tak sempurna. Toh, buat pihak Beal tak masalah, dan kerja sama pun berlangsung kendati mereka tak bertemu.

Alfi menyadari, memenuhi target prinsipal bukanlah perkara mudah. Akhirnya ia memutuskan menjual produk Beal sebanyak-banyaknya tanpa menarik keuntungan sama sekali. “Target saya saat itu adalah mendapatkan pasar dan mereka memercayakan merek itu kepada saya. Jadi jika mereka jual Rp 1.000, saya jual dengan harga Rp 1.000,” paparnya memberi gambaran. Selain itu, ia ingin fokus mengembangkan jaringan lebih dulu. Alhasil, pada 2004, tingkat pencapaian penjualannya sebesar 400%. Dan persis pada Juni 2005, ia diangkat menjadi distributor Beal di Indonesia. Bahkan, untuk periode 2005-2006 Tandike memiliki kinerja terbaik setelah AS, Prancis, Jepang, dan Singapura untuk penjualan Beal. “Pencapaian kami sebesar 250% menurut prinsipal Beal di Jerman,” kata bungsu dari 6 bersaudara dari pasangan (almarhum) Syarbaini dan Sabandiah ini.

Sejak itu, sejumlah produsen asal Eropa dan AS datang dan menawarkan merek mereka kepada Alfi. Bahkan Lafuma, produk asal Prancis – seperti jaket, celana, sepatu, ransel, kaus tangan – agak memaksa Alfi untuk menjual produk-produknya. “Kata mereka, tak usah kirim uang, jual barang saya dulu nanti baru bayar,” ujar Alfi menirukan.

Sejak menjadi distributor merek-merek asing, Alfi mengubah strategi bisnisnya. Mulai 2005 ia menutup sejumlah toko yang dianggapnya kurang prospektif. Sebaliknya, ia berkonsentrasi sebagai distributor dan hanya membuka tiga toko. “Saya melihat cara ini lebih menguntungkan. Kerjanya sedikit dan kontrolnya lebih gampang,” kata Alfi, yang saat ini memiliki tiga toko selain di Jl. Raya Ciledug, yaitu di Cakung (Jak-Tim), dan Padang (Sum-Bar).

Tak hanya itu, hikmah menjadi distributor produk-produk asing ini. Belakangan, Alfi menyadari, ternyata pasar paling besar bukanlah produk olah raga luar ruang. Melainkan, perlengkapan untuk keselamatan kerja, yang ternyata memberi kontribusi hingga 90% pada total penjualannya. Adapun produk olah raga yang awalnya ia jual, kontribusinya cuma 10%. “Terus terang, ketika saya ingin menjadi distributor, saya sama sekali tak tahu hal ini,” ucapnya mengenang.

Tak heran, saat ini pelanggan yang datang sangat beragam. Tak hanya kalangan pecinta alam, tapi juga dari instansi pemerintah, perusahaan cleaning service di gedung-gedung tinggi, kalangan militer, hingga perusahaan telekomunikasi.

Sekarang, untuk peralatan olah raga luar ruang, pemasukan tertinggi berasal dari produk asing merek Deuter dari Jerman. Kontribusinya mencapai 60%. Merek ini menyediakan produk seperti sleeping bag dan tas ransel dalam berbagai bentuk, ukuran dan keperluan. Tempat kedua disusul Karrimor asal Inggris sebesar 25%-30%, dan diikuti merek-merek lain. Sementara untuk produk keselamatan kerja disumbangkan oleh Beal sebesar 40%, disusul Camp asal Italia (30%), dan Petzl dari Prancis (10%-20%). Produk Petzl, menurut Alfi, agak mirip dengan Beal tapi harganya sedikit lebih mahal.

Untuk produk lokal saat ini sebesar 60% disumbang oleh merek Consina, disusul Eager (30%). “Secara nasional sebenarnya Eager yang terbesar, tapi di toko saya Consina yang terbesar,” kata Alfi.

Dyson, pemilik merek Consina, mengungkapkan bahwa kinerja penjualan mereknya mencapai pertumbuhan tertinggi pada 2007 di toko-toko Tandike. “Besarnya mencapai 35%-40%,” kata pria berusia 33 tahun asal Toraja, Sulawesi Selatan ini. Dyson mengaku puas dan senang bekerja sama dengan Alfi, karena mereka sama-sama dari komunitas pecinta alam, dan komunikasinya sangat baik. “Ia terjun langsung ke toko-toko, punya komunikasi yang baik dengan konsumen dan produsen, sehingga ia tahu persis keadaannya. Kami juga banyak mendapat masukan dan bisa memperbaiki produk kami,” tutur lulusan Fakultas Teknik Industri Universitas Trisakti ini.

Alfi tak puas hanya sampai di situ. Kini ia mengembangkan jaringan tokonya di sejumlah daerah. Saat ini ia memiliki jaringan sekitar 60 toko di 33 provinsi di seluruh Indonesia. Antara lain di Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Pelembang, Bogor, Bandung, Sukabumi, Yogyakarta, Solo, Balikpapan, Manado, Denpasar, Makassar, Ambon dan Papua. Bondan, Manajer Toko Kawani di Bandung, mengungkapkan hubungan kerja sama mereka sudah berjalan selama lima tahun. Kelebihan Alfi, menurutnya, tidak mudah menaikturunkan harga meskipun kurs US$ sering berubah-ubah. Kelebihan lain, barang yang dikirim sesuai dengan pesanan.

Soal harga, Alfi memang mematok harga tertentu untuk barang yang dijualnya. Selama harganya tidak menembus patokan harga kurs US$, pihaknya tak akan mengubah harga.

Perkembangan pasar Tandike ternyata tak hanya di dalam negeri. Sejumlah pemain di luar negeri seperti di Thailand, Hong Kong, Brunei Darussalam dan Malaysia pun membeli barang ke tokonya. “Saya memberi harga yang lebih murah ketimbang mereka membeli barang di Singapura,” kata Alfi. Lagi pula, “Negara mereka bukan market saya, dan saya tak keluar apa-apa. Saya hanya jadi calo,” lanjutnya memberi alasan kenapa memberi harga lebih murah.

Yang menarik, untuk memperkenalkan produk-produknya ke masyarakat, sejak empat tahun terakhir ia bekerja sama dengan Trans7 (sebelumnya TV7) dalam program Jejak Petualang. Dan saat ini setiap kegiatan teve mana pun yang berkaitan dengan petualangan atau liputan banjir, ia pastikan melakukan kerja sama dengan Tandike. Contohnya, Metro TV, Lativi, ANTV dan SCTV.

Soal perkembangan bisnisnya, Alfi menerangkan, sejak 2000-2004 pertumbuhan usahanya hanya 10%-20%. Namun sejak 2005-2007 mencapai 200%. Menurut dia, ada dua hal yang menyebabkan kenaikan ini. Pertama, toko-toko yang rugi ditutup. Kedua, karena ia menjadi distributor banyak barang impor, maka ia memiliki banyak produk untuk dipasarkan.

Adapun untuk tahun 2008, Alfi mengaku optimistis. “Karena sekarang ada kewajiban memakai alat pengaman untuk bekerja di ketinggian,” ucap suami Dina Akmalia (29 tahun), dan ayah dari Sultan Malano (empat tahun) ini. Dengan adanya peraturan ini, ia optimistis permintaan atas produk-produknya bakal meningkat. Yang pasti, visinya ke depan buat Tandike adalah menjadi yang ter. “Saya ingin menjadi yang terbesar, terkomplet dan termurah,” Alfi menegaskan.

sumber:
URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/artikellain/details.php?cid=1&id=7229

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar